☎ Hotline: +62 823 7728 3090 | pikiransuper.id@gmail.com
Halo para Generalis Muda Indonesia - Mari bergabung dan belajar bersama di Komunitas Pikiran Super Indonesia! - Mind Change Your Life!. Gabung Sekarang!
Postingan

The Chora Series-BAB 1

Bruk

"Selesai!"

"Baik, mari kita berangkat!"

"Cho, cepatlah!"

"Baik, Ibu"balas Chora.

"Berhentilah murung, kita akan kembali lagi nanti"ucap Ayah Chora.

"Tapi berapa lama?"tanya Chora dengan wajah kesal.

"Mungkin setelah urusan Ayah selesai."jawab Ayah Chora.

"Itu memang tujuan awal, Yah!"ucap Chora kesal.

"Sudah-sudah, saatnya berangkat!"ucap Ibu Chora.

Perjalanan yang melelahkan, Chora duduk bersandar sambil memandang surat ucapan perpisahan dari Sahabatnya.

"Lihat kita sudah dekat!"ucap Ayah Chora.

Chora memandang sekumpulan rumah-rumah yang lumayan jauh dari jalan, anehnya tidak terlihat jalan menuju ke tempat tersebut.

"Sepertinya ini jalannya."ucap Ayah Chora memandang jalan di depan mereka.

"Apa bisa di lalui oleh mobil?"tanya Ibu Chora khawatir.

"Sepertinya bisa"jawab Ayah Chora.

Ayah Chora berhasil menjalankan mobilnya di atas jalan tersebut, jalan berantakan dan di kelilingi hutan rimbun.

"Ayah Ibu, kita kembali saja!"ucap Chora merasa ada yang aneh dengan jalan yang mereka lalui.

"Tunggu Chora, kita hampir sampai!"balas Ibu Chora.

Chora menatap ngeri hutan gelap tersebut, mereka kini sudah sampai di Desa yang akan mereka tinggali. Namun ada yang aneh, tidak ada seorangpun di sana dan rumah-rumah terlihat sudah lama di tinggalkan.

"Apa benar di sini, Yah?"tanya Ibu Chora.

"Benar kok, Bu!"jawab Ayah Chora.

"Kemana orang-orang di sini?"tanya Chora ngeri.

"Ayo kita lihat-lihat sekitar dulu"ucap Ayah Chora.

Mereka berjalan menyusuri Desa, namun benar-benar tidak menemukan seorangpun tinggal di sana.

"Huek...."

"Bu, Ibu kenapa?"tanya Ayah Chora.

"Mual, Ibu sangat mual!"jawab Ibu Chora.

"Huek...."

Chora memandang kedua orangtuanya dengan bingung, mereka mengalami muntah-muntah dan lama kelamaan darah mulai merebes dari mulut mereka.

"Aaaaaa....hmmmppphhh..."

Chora tidak bisa bernafas, seseorang membekap mulut dan hidungnya. Lalu, sesuatu memaksa masuk ke tenggorokan Chora.

"Apa itu?!"tanya Chora.

"Sssttt....kau akan mati jika terlalu lama bernafas di sini!"

"Siapa?!"tanya Chora sambil mundur beberapa langkah.

"Yang terpenting sekarang adalah kedua Orangtuamu, mereka akan mati jika di biarkan seperti ini"

"Lalu aku harus bagaimana?"tanya Chora panik.

"Jangan biarkan mereka bernafas, lalu bawa ke dalam rumah yang tidak terkena cahaya matahari"

"Eh"

Chora dengan cepat membekap mulut dan hidung Ibunya,  membawanya masuk ke dalam rumah. Seseorang tadi juga membantu membawa Ayahnya, hati Chora menjadi campur aduk melihat kedua orangtuanya.

"Siapa kau, dan apa yang kau berikan padaku?"tanya Chora.

"Aku Nazu, aku memberikan obat penangkal wabah di sini"

"Wabah?"tanya Chora.

"Ya, Desa ini sudah terkontaminasi oleh Wabah mematikan"jawab Nazu.

"Apa Ayah dan Ibuku akan baik-baik saja?"tanya Chora.

"Jika kau bisa mendapatkan penawarnya, tapi penawarnya belum di temukan"jawab Nazu.

"Aku harus bagaimana?"tanya Chora.

"Satu-satunya cara, kau harus mencuri penawar dari orang yang menciptakan wabah ini"jawab Nazu.

"Orang yang menciptakan wabah ini?"tanya Chora bingung.

"Aku akan menceritakannya"ucap Nazu.

"Dahulu ada sebuah Desa yang makmur, Desa itu memiliki banyak anak cerdas. Walaupun hanya sebuah Desa, bisa di katakan Desa kecil itu sangat maju. Keturunan-keturunan unggul mulai bereksperimen, mereka menciptakan berbagai alat untuk kemakmuran Desa kecil mereka."

"Namun, ada satu Anak yang merasa dirinya paling hebat. Dia menciptakan berbagai alat yang sangat bermanfaat, membuat anak-anak lain cemburu"

"Pada akhirnya eksperimen terakhirnya yang sangat ekstrim mengalami kegagalan, sesuatu yang di jadikannya objek eksperimen malah menyebarkan wabah mematikan"

"Awalnya mereka mengira itu adalah kegagalan, namun ternyata kebenaran tidak seindah harapan. Eksperimen yang di lakukan anak itu adalah keberhasilan, keberhasilan untuk membunuh saingannya dan membuat dirinya bisa lepas dari Desa dan bebas menjadi yang terdepan"

"Desa yang dulu damai dan makmur kini hanya meninggalkan bangkai-bangkai sisa, siapapun yang datang ke sini akhirnya akan mati sia-sia"

"Itulah Desa Wabah"

Nazu mengakhiri ceritanya, namun beberapa pertanyaan berputar di kepala Chora.



Getting Info...

Posting Komentar

Tulis komentar dengan kata-kata yang baik, terima kasih telah berkunjung 🙏
Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.